+62 856-4041-8699 | +62 896-8732-2611

Jl. FARMAKO, SEKIP UTARA, YOGYAKARTA

Semangat Eliminasi Kanker Serviks Menggema di PIT XVII HOGSI Yogyakarta

Yogyakarta — Semangat besar menuju Indonesia bebas kanker serviks menggema kuat dalam atmosfer ilmiah yang penuh antusiasme dan semangat kolaborasi, Workshop “Deteksi Dini Lesi Prakanker Serviks dan Kolposkopi Sebagai Bagian dari Program SPRIN POGI: Pendekatan Klinis Terintegrasi” sukses diselenggarakan pada 10–11 Mei 2026 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Kegiatan prestisius ini menjadi bagian penting dari rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia, menghadirkan para pakar terkemuka nasional yang selama ini berada di garis terdepan perjuangan eliminasi kanker serviks di Indonesia.

Workshop menghadirkan narasumber ahli dan tokoh berpengaruh di bidang obstetri, ginekologi sosial, serta onkologi ginekologi, yakni Prof. dr. Endy Moegni, Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Prof. Dr. dr. Junita Indarti, dan Dr. dr. Moh Nailul Fahmi.

Peserta yang terdiri dari dokter spesialis dan subspesialis obstetri dan ginekologi dari berbagai institusi pelayanan maupun pendidikan tampak memenuhi ruang workshop dengan semangat belajar tinggi.

Hari pertama workshop dibuka dengan registrasi dan pre-test, sebelum peserta memasuki sesi ilmiah intensif yang membahas berbagai tantangan nyata kanker serviks di Indonesia. Para peserta diajak memahami situasi terkini, strategi pencegahan nasional, hingga transformasi metode skrining modern berbasis DNA HPV.

Diskusi berlangsung dinamis ketika para narasumber mengupas perjalanan infeksi HPV hingga berkembang menjadi kanker serviks, pentingnya HPV genotyping, aspek etik dan medikolegal skrining, hingga urgensi peran dokter spesialis sebagai edukator dan trainer dalam implementasi program deteksi dini nasional.

Tidak berhenti pada teori, workshop ini juga menekankan pendekatan klinis yang aplikatif dan terintegrasi. Peserta dibekali kemampuan interpretasi kolposkopi normal dan abnormal, pengambilan keputusan klinis pada pasien HPV positif, hingga teknik tata laksana lesi prakanker melalui metode ablasi dan eksisi.

Puncak antusiasme terlihat pada hari kedua ketika sesi hands-on workshop dimulai. Suasana pelatihan berubah menjadi arena pembelajaran interaktif berstandar tinggi. Para peserta secara langsung mempraktikkan penggunaan alat kolposkopi dan Gynocam, teknik LEEP/LEETZ, krioterapi, cold coagulation, hingga simulasi tindakan klinis dengan pendampingan intensif dari para instruktur ahli.

Energi kolaboratif dan semangat pengabdian begitu terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Workshop ini bukan hanya menjadi forum transfer ilmu, tetapi juga momentum konsolidasi nasional dalam memperkuat kualitas tenaga kesehatan Indonesia menghadapi tantangan eliminasi kanker serviks.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir lebih banyak tenaga medis yang unggul, kompeten, dan siap menjadi motor penggerak deteksi dini kanker serviks di berbagai daerah Indonesia. Sebab di balik setiap keterampilan yang diasah dalam workshop ini, tersimpan harapan besar untuk menyelamatkan kehidupan perempuan Indonesia di masa depan.